Month: March 2016

Of Being Remembered

I watched ‘The Fault in our Stars’ again two days ago, and this time around I managed to continue where I left it many many months ago and finally got to watch it until the end.

It was a tear-jerking film alright, but there is one scene which stuck in my mind.

[Hazel takes Gus to Funky Bones for a picnic in his wheelchair, they sit on a picnic blanket and Hazel opens up a bottle of champagne as Gus sits quietly looking sad]
Hazel: What are you thinking about?
Gus: Oblivion. I know it’s…it’s kid’s stuff or whatever, but…I always thought I would be a hero. I always thought I’d have a grand story to tell, you know? Something they’d publish in all the papers, and…I mean, I was supposed to be special.
Hazel: You are special, Augustus.
Gus: Yeah, I know. But you know what I mean.
Hazel: I do know what you mean, I just don’t agree with you. You know this obsession you have with being remembered?
Gus: Don’t get mad.
Hazel: I am mad. I’m mad because I think you’re special, and is that not enough? You think that the only way to lead a meaningful life is for everyone to remember you, for everyone to love you. Guess what, Gus. This is your life, okay? This is all you get. You get me, and you get your family, and you get this world, and that’s it. And if that’s not enough for you, then I’m sorry, but it’s not nothing. Because I love you, and I’m gonna remember you.
Gus: I’m sorry. You’re right.
Hazel: I just wish you’d be happy with that.

The obsession with being remembered. The belief that oneself is supposed to be special, to be a hero, to have a grand story to tell.

I am not ashamed to tell you that it strikes a chord – it resonates with me. I have come (nearly) to be at peace with the differences between things I wish I could do and achieve and things I currently have in hand – but it was a long mental journey to arrive at this point.

Einstein once said, in Albany, New York in 1936:

Desire for approval and recognition is a healthy motive, but the desire to be acknowledged as better, stronger, or more intelligent than a fellow being or fellow scholar easily leads to an excessively egoistic psychological adjustment, which may become injurious for the individual and for the community.

 I think he is right.
And I leave you with that.

Anak

Yang tidak mungkin dimengertikan oleh sesiapapun yang belum pernah melaluinya adalah perasaan cinta dan kasih, juga belas yang tidak berpenghujung seorang ibu kepada anaknya. Ketika ibuku sendiri menitiskan air mata melihat aku, anaknya yang kesakitan setelah melalui kesulitan melahirkan cucu keduanya, aku hampir pasti bahawa rasa cinta dan kasih dan belas itu adalah satu ikatan yang sukar sekali untuk terurai meski anak itu bukan lagi budak kecil tanpa daya.

Tiada siapa melainkan yang pernah melaluinya bisa memahami betapa sempitnya rasa dada seorang ibu melihat anak kecilnya kesakitan. Ibu itu mungkin boleh tersenyum, mungkin boleh menenangkan datuk nenek yang tidak keruan melihat cucu yang tidak cergas seperti kebiasaan, mungkin juga kelihatan kuat tanpa tercuit sedikit pun. Namun yang boleh mengerti betapa nafas ibu itu seolah tersekat, tidak bebas, tidak juga mengundang puas saat dihirup cuma mereka yang pernah melaluinya; yang pernah menanggung derita hati melihat anaknya diselirati tiub, dicucuk di sana-sini, dipaksa menelan segala jenis kepahitan.

Setelah menjadi ibu aku sudah jadi lemah. Aku lemah apabila aku dipertontonkan gambar-gambar anak yang diuji dengan kesakitan (Aku mahu percaya bahawa anak-anak syurga ini tidak merasa kesakitan, tetapi yang diuji adalah kesabaran orang tuanya); air mata jadi murah dan jatuh berderai. Apabila diterjah cerita-cerita penuh kepiluan anak-anak mangsa perang, aku boleh tidak tidur malam. Aku sayu mengenangkan ibu kepada anak-anak itu yang hatinya sudah tentu umpama disiat-siat, jantungnya bagai dilapah-lapah.

Namun itulah dunia. Bila sihat, itu ujian. Bila sakit, itu juga ujian. Tiada istilah tragedu dalam ruanglingkup kehidupan bertuhan.

Untuk seorang hamba seperti aku, yang selalu dipenuhi keegoan dan rasa kecukupan, ketidakmampuan aku membawa kepada rasa rendah diri yang teramat. Tuhan memanggil aku supaya sujud di hadapanNya, merayu kepadaNya Yang Maha Penyembuh saat aku berada di hujung kekuatan, saat aku sudah tiada daya untuk mengembalikan senyuman di bibir anak-anak tercinta.

Maka itulah pengajarannya. Anak adalah anugerah yang aku terima tanpa perlu menunggu lama, kerana melalui anaklah aku diajari Allah tentang kerendahan dan kelemahan. Tentang ketidakberdayaannya aku untuk melalui semuanya hanya dengan kudrat yang ada. Rasa cinta dan kasih yang hadir bersama panasnya anak yang baru keluar dari perutku (bahkan sebenarnya sebelum jantungnya belumpun berdegup) adalah ikatan yang akhirnya melihatkan aku tersungkur sujud kepadaNya dalam erti kata sebenarnya.

Aku merayu dengan penuh rasa kehinaan dan kelemahan pada Tuhan adalah saat anakku terasa seperti sudah di hujung nyawanya. Tidak pernah ada situasi yang menyebabkan aku merayu sehebat itu sebelumnya.

Allah menciptakan rasa yang kuat ini, dan mengakuinya melalui ajaran Rasul kekasihNya. Para sahabat diajari Nabi s.a.w  supaya mempercepat solat berjemaah saat anak kecil menangis kerana tangisan itu mampu menggundah-gelanakan hati sang ibu yang sedang bersolat.

Alangkah kuatnya perasaan itu sehingga pertemuan dengan Tuhan yang paling Agung bisa pula dipercepat dan diringkaskan.

Alangkah.