Pada saat-saat begini..


Suasana pekan kecil di kaki Gunung Sinai, ketika petang ketibaan kami.

Deretan kedai berdekatan tempat penginapan. Di kiri itu supermarket yang saiznya tidak cukup super.


Mentari terbit. Kami di puncak Gunung Sinai tempat munajat nabi Musa a.s. Kalaulah ketenangan pada saat-saat itu boleh dipindahkan pada jiwa saya pada ketika ini, alangkah baiknya.

Ini lagu rindu. Rindu pada tenangnya bersama alam, tentunya saat-saat di kaki Mt Sinai. Bezanya umpama langit dan bumi, keadaan jiwa saya ketika itu dan pada saat ini.

Baru menyedari kebenarannya, bahawa hidup dalam kota batu ini boleh menyebabkan manusia semakin sukar menemui Tuhan seperti kata Yusuf Chambers, speaker yang saya temui semasa Muslim Week yang lalu.

Benar, jika unsur utama dalam kehidupan; air, tanah, udara dan api, semuanya sudah artificial, manusia semakin sukar untuk melihat kekuasaan Pencipta. Kalau cahaya yang menerangi datangnya dari lampu bukannya matahari, tanah yang yang dipijak semuanya berlapik simen, udara yang segar semakin sukar ditemui, dan haba yang memanaskan badan datangnya dari pemanasan oil & gas, maka inilah akibatnya.

Entri lain yang berkaitan Lagu ini dan kenangan saya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s