Hapuslah air mata!


Sudah seminngu lebih saya di Manchester, kembali ke dunia saya, kembali ke negara penuh kesopansantunan, kembali kepada sistem yang kurang kelam-kabutnya.

Dan hari keempat kembali ke sini, diajak keluarga angkat (ketika saya masih diam di Cheetham hill, masih belum pulang ke rumah sewa sendiri di Chorlton-on-Medlock) ber’fruit-picking’, walaupun sedikit malas saya pergi juga – apa salahnya saya berusaha menghilangkan kesedihan saya terpaksa meninggalkan bumi Mesir, apa salahnya saya berusaha menghiburkan hati melayan keletah Fatin yang semakin manja. Dudk diam sendiri barangkali boleh menyebabkan lebih banyak air mata tertumpah.

Entah berapa kali saya menangis sendiri sepanjang perjalanan pulang dari Kaherah ke Manchester, saya tidak pasti. Bermula dengan pagi Khamis (hari terakhir saya menghadiri Madrasah Imam Syafie) ketika bersalaman dengan sahabat-sahabat yang saya kenali sepanjang mengaji di situ, langsung ke pagi esoknya ketika berpelukan dengan sahabat-sahabat serumah Perlis, juga ketika melambai buat kali terakhir kepada Kak Yana dan Kak Matun di lapangan terbang, saya masih tidak dapat menahan perasaan. Bahkan hanya dengan melihat peta Mesir yang terpapar di skrin di depan mata saya ketika dalam penerbangan, air mata saya tertumpah.
Dan pagi-pagi begini, semakin terasa kehilangan, yang jika perasaan itu dilayan-layan, akan tumpah sekali lagi air mata.

Saya harus bersetuju dengan kata-kata pengarah madrasah yang saya hadiri saban hari di Kaherah dahulu: anda akan merindui suasana majlis ilmu itu suatu masa nanti, dan memang benar, itulah yang saya rasai sekarang. Terkenang-kenang matan Waraqat yang belum habis didengar syarahnya.

Tetapi cukuplah sekadar ini melankoli. Hapuslah air mata, perjuangan saya masih belum berakhir dan tidak patut terhenti sementara kerana melayan perasaaan. Kerja yang berbaki masih perlu diselesaikan, ditambah dengan kerja baru (terima kasih boss!) nampaknya cuti yang tinggal kurang sebulan akan penuh terisi inshaAllah.

Baru tamat mengemas rumah baru, ‘make-over’ terminologi kontemporarinya. Rumah 30 East Grove di Chorlton-on-Medlock ini lebih kecil, tetapi jauh lebih selesa kecuali masalah yang satu ini : Stor yang sangat kecil! Kalau rumah lama di Old Trafford punya basement luas (yang membenarkan kami mencampak apa sahaja barang tidak berkenaan di situ), kali ini harus lebih berhati-hati, dan terpaksa bertindak lebih kejam, buang saja jika tidak perlu! (My inner environmentalist hurts so much).

Semester baru, perlu lebih energetik nampaknya.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s